Senin, 10 Agustus 2015

The Art of Travelling ~ Oly

The art of travelling/ seni-nnya travelling

Kadang saya suka bingung. Orang kok mau-maunya ya jalan- jalan ke gunung? Apa bagusnya coba? Udah cape naek-naek ke atas terus turun lagi? What's the point?

Bagi pencinta alam naik gunung tuh mungkin kayak hobi saya jalan-jalan menyusuri pasar tradisional mencari makanan yang menurut saya cukup antik/aneh. Kalo dari point of view pendaki gunung ngeliat pemandangan dari atas gunung sesuatu yang ga bisa didapat secara gratis harus usaha dulu.

Apalagi setau saya di indonesia ga ada istilah kereta gantung yang bikin naik gunung makin mudah, yang ada malah jalan terjal, fisik harus kuat, dan juga harus bawa tenda perjalanan menuju gunung dan arah pulang kan memakan waktu ga kan seperti ke mal 5 jam (makan - nonton - nge-cafe) dan langsung pulang? Kalau dari presepsi saya sih mendaki gunung membutuhkan usaha dan proses kalau keduanya seimbang pasti mau liat pemandangan dari atas gunung manapun kamu pasti bisa. Nah usaha juga penting.. Hehehe kalau dipertengahan jalan kamu males masa kamu turun kan ga mungkin juga :) 

Lain gunung lain lagi yang demen belanja. Kalau mama saya paling ga suka ikut tur. Kata si Mama kalo ikut tur harus bangun pagi, diajak ke tempat yang dia bilang ga asik (Mama ga suka ke museum ato tempat yang jual barang- barang khas negara yang didatengin). Nah si Mama itu paling suka jalan- jalan ke pasar (ya biasa Ibu-ibu pengen tau pasar negara lain atau di daerah di Indonesia kayak apa) dan  kalo soal mal di Indonesia mama jarang ke mal tapi kalau udah ke luar negeri dia suka ke mal hahahaha. Favoritnya si mama ya cari tempat makan alias wisata kuliner tapi ada yang aneh dari hal yang paling mama ga suka kalau jalan- jalan ke luar negeri yaitu *jrengjrengjrengjreng* tempat yang ada hubungan sama sejarah dan outdoor katanya mama bukan jalan- jalan tapi penyiksaan.

Suka naik sepeda? Nah saya punya sodara yang suka banget naik sepeda. kalau ke Bali pasti kamu bakal bayangin Pantai,SPA, shopping sama wisata kuliner.tapi saudara saya malah ke Bali untuk olahraga dan cuma untuk besepeda bayangkan? Males banget ga sih..heheh bagi saya pribadi sih males banget2 tapi masalahnnya bagi orang yang suka sepedaan kan lain lagi.. Coba kamu ajakin orang yang hobi sepedaan shopping ke mal mana mau dia mending sepedaan keliling Bali daripada jalan-jalan ke mal.

Ada yang sukanya nyari Tuhan alias wisata Rohani (kayak saya) liburan ya liburan ngapain bawa bawa Tuhan? Ya bagi saya pribadi sih ya.. Boleh dong menyelam minum air, travelling sambil ketemu Tuhan. Saya udah bertekad mau ke negara apa dan dimanapun( soal ini saya maksa sama Tuhan) Saya harus ke gereja, dan kalau bisa saya maunya ke Katedral.Ini masuk travelling to do list saya. 

Kayaknnya yang saya post selalu dikit. Sebenernya saya bikin post pendek- pendek supaya yang baca jadi ga males baca. Coba saya tulis panjang- panjang ntar yang baca udah keburu males duluan.. Pasti pembaca blog bilang ih ini orang ngelesnnya bisa aja.. Tapi memang saya klo ngepost pendek-pendek, doain ya supaya saya bisa post lebih panjang dan lebih menarik untuk kalian baca~


With Love,


oly 

Selasa, 04 Agustus 2015

Some Thought about Travelling

Just some thoughts about travelling

Di minggu ini, gw Cuma akan share sedikit pemikiran tentang traveling. Karena kebanyakan nonton film barat, juga baca buku terjemahan/ buku tulisan orang luar negeri – gw baru sadar kalau banyak orang menulis buku (yang nanti nya dijadikan film) melalui satu perjalanan dulu. Selama perjalanan yang biasanya untuk mencari jati diri mereka, mereka akhirnya bisa menulis tulisan yang luar biasa ‘moving’ dan inspiring.

Sebut saja “Eat, Pray, Love” nya Elizabeth Gilbert. Buku ini berisi perjalanannya mencari kenikmatan makanan di Italy, berdoa di India dan mencari cinta dan keseimbangan di Indonesia. Btw, gw beli buku ini tahun 2009 waktu heboh-hebohnya orang-orang baca tapi jujur.. gw baru baca serius minggu ini. Suka banget bukunya, super inspiring. Tapi jujur.. filmnya terlalu film. Kalao baca bukunya kesannya lebih dalam dan lebih ngerti kenapa hal begini dan begitu.

Lalu, ada “Wild” nya  Cheryl Strayed   yang di film diperankan oleh Reese Witherspoon. “Into the Wild” oleh Christopher McCandless yang di film diperankan Emile Hirsch (tahun 2007). “Between a Rock and a hard place” yang jadi film 127 hours (James Franco), dan pastinya ada banyak lagi film. I don’t think i have watched that many movies (LOL).

Intinya dari film-film yang di atas gw sebutin, banyak orang yang mencari jati diri dengan berpergian sendiri. Sebagai orang asia dan orang Indonesia, gw jarang tahu orang yang berpergian sendiri dan benar-benar sendiri untuk liburan. Kebanyakan orang.. yaah sendiri sih waktu berangkat, tapi nanti di tempat tujuan akan bertemu orang lain. Atau.. memang sengaja pergi bareng keluarga, teman, pasangan. Yang pasti berpergian untuk keperluan bisnis nggak dihitung yaa.. pulang kampung juga nggak dihitung loh.

Mungkin di Indonesia atau Asia.. berpergian sendiri yang benar-benar sendiri masih agak asing kali ya? Don’t you think? Rasanya kalau ketemu orang yang habis pergi traveling, lalu ditanya “ sama siapa?” dan jawabnya “ sendiri”, kita suka agak mengernyit karena ekspektasi kita adalah “oh sama ortu.” Atau “sama temen..tuh”. Jadi begitu bilang, ‘sendiri’ dalam hati bisa-bisa bilang, “mana rame..”

Honestly, mungkin karena kebanyakan nonton dan baca di atas, i dont think traveling alone is a weird idea. Apalagi selama kita masih muda dan belum berkeluarga (kalau sudah berkeluarga.. aneh juga sih tinggalin pasangan dan anak untuk bersenang senang sendiri). Traveling sendiri malah bagus untuk orang-orang aneh seperti gw (bookworm, artsy, kinda crazy . LOL) .

Traveling alone gw adalah tahun 2009 yang lalu. Somehow gw jadi pergi ke Singapura sendiri, tanpa planning pergi ke mana mana. Jadi selama kurang lebih 4 hari, gw jalan dan muter-muter ngubek-ngubek kota singa ini. Orchard- Bugis- City Hall – East Coast  and more: ngapain? Liatin toko buku, toko mainan, toko komik. Nyobain cemilan ini itu. Belanja? Nggak sih.. demen aja liatin buku dan mainan. Dengan traveling alone ini gw baru tahu kalau ke Public Library di Singapura kita nggak perlu register ribet-ribet untuk enjoy atau bahkan peek ke koleksi buku mereka yang buanyakkkk!  Gw juga nemuin satu gedung yang isi nya 3 lantai jual buku bekas. Whoaaah... belanja? Nggak.. happy aja. Nemu toko-toko art supply yang bikin betahhhh di dalamnya.

Satu kali gw mampir di east coast yang pantai aja sih. Jadinya gw sewa sepeda dan keliling di sana naik sepeda sampai capek. Waktu itu belum jaman GPS, google maps dan teman-temannya. Jadi gw cuma asal berhenti untuk memenuhi rasa penasaran gw ‘ada apa sih’. Gw juga nemuin satu taman bermain yang udah agak tua dan sepi. Tiketnya murah banget dan jadinya gw masuk. Aneh juga sih main ke taman bermain sendirian tapi gw tetap main satu permainan; Balap mobil! Waktu itu gw naik perahu dari Singapore Flyer- lalu ke Merlion dan berhenti di Clark Quay. Naik bianglala Singapore Flyer mengagumkan tapi karena gw agak takut ketinggian lumayan ngeri juga..  dan jalan.. banyak jalan.. waktu jalan dekat area marina. Gw tahu tempat itu sedang dibangun tapi gw nggak tahu kalau satu tahun berikutnya akan berdiri gedung super luar biasa mewah Marina Bay Sands dan nantinya ada Gardens by the bay. Btw, honestly... semua perjalanan ini tanpa research dulu (was so silly) yaah mungkin kalau ada research bisa lebih organize dan bisa jalan ke lebih banyak tempat. Tapi.. who cares? Yang nikmatin gw doang. Beda dengan kalau jadi bawa teman/ keluarga jalan.

Sure, Christopher McCandless pernah bilang “ Happiness only real when shared” tapi untuk sesaat aja kita Cuma perlu sendiri untuk dapat ide , pencerahan dan bahkan diri kita sendiri. Honestly, traveling sendiri di 2009 itu bikin gw lebih kenal diri gw sendiri, kenal sisi baiknya of course. Ada yang perlu diinget tentang travelling sendirian: Please kasih tau keluarga/ teman/ siapapun kamu pergi kemana. Inget film 127 hours? Aaron Ralston telat diketemuin karena dia nggak kasih tau siapapun dia pergi kemana.Please, kasih tau at least 1 orang. Walaupun orang yang jauh. 

Ide pergi keliling sendiri ini buat gw adalah Santorini.. Cuma diem di salah satu gedung warna putih, nulis/ gambar seharian dengan udara sepoy sepoy dan aroma laut Aegan.. tapi sesudahnya masih mau makan nasi goreng atau baso tahu Ha! Selain Santorini, keliling China juga rasanya keren. Gw selalu kagum dengan China yang kaya akan sejarah. Keliling China untuk pegang gedung/ jalan di tanah yang peradabannya udah ribuan tahun lamanya, menurut gw keren. Yang ini, kalau sudah kesampaian pasti akan di share lagi deh di blog. Atau... the wildest one adalah.. NEW YORK.  Gw yang terlalu banyak nonton tv series kayak Sex and the City, Friends (bahkan) dan ratusan movies.. jatuh cinta sama New York.  Yea.. beberapa orang bilang New York nggak serapi itu, nggak sekeren itu.. tapi tetep! Broadway, Manhattan, Time Square, dan masih banyak lagi!

Pantai.. ide tentang pantai banyak kasih gw tentang relaxing vacation yang Cuma diam, “gw dan laptop”, “gw dan kertas”, atau “ gw dan buku”.  Bayangin diri sendiri vila (atau hotel) di sofa yang nyaman, dengan jendela terbuka yang membuat udara semilir semilir masuk adem... aah...

Intinya, buat gw travelling sendiri sekali sekali bisa bikin pikiran terbuka, kita bisa kenal diri kita sendiri . Bisa pilih itinerary dan tujuan yang kita suka. Berlama-lama di tempat yang kita pengen enjoy , atau kayak gw.. spend 2 hours di bookstore Cuma untuk liat-liat buku. Haha!

Hmmm jangan-jangan dengan tulis bagian ini kamu akan pikir gw penyendiri? HAHA! No!

People First tetap.. gw percaya.. kemanapun, kapanpun, gimanapun perfectnya “getaway sendiri”, lebih indah adalah pergi ke tempat yang biasa saja dengan orang yang luar biasa berarti buat kita. Pernah ke Kawah Putih yang terletak di Ciwidey, Bandung? Gw pernah.. 5 kali. Suka tempat itu? Keren sih.. tapi bukan karena tempatnya yang bikin gw mau kesana sampai 5 kali. Jujur.. kesana itu capek dan makan waktu di jalan. Tapi 5 kali ini dengan 4 group teman-teman baik yang berbeda yang bikin gw tetep mau pergi kesana, yang bikin setiap perjalanan jadi perjalanan yang indah dan menyenangkan. Bayangin pergi kesana sendiri? Nggak deh..

So, there are times we need to enjoy ourselves, found,challenge,be ourselves. But there are times when we should enjoy and spend with those loved ones. Be it your best friend (s), family members, parents, siblings, grandparents, spouse even because time is too short to enjoy all only by yourselves anyway.  


In short, what do you think about travelling alone? To foreign place? 

-Itin-